LAPORAN PRAKTIKUM ORNITOLOGI

LAPORAN PRAKTIKUM ORNITOLOGI

KEANEKARAGAMAN JENIS BURUNG DI KAWASAN MANGROVE REBOISASI DAN KAWASAN ALAMI DI PUSAT INFORMASI MANGROVE TAMAN HUTAN RAYA NGURAH RAI DENPASAR – BALI

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Di Indonesia terdapat sekitar 1539 jenis burung dan 488 jenis diantaranya menghuni pulau Jawa dan Pulau Bali (Prawiladilaga dkk., 2002). Keanekaragaman jenis burung di Indonesia mulai terancam punah akibat tindakan – tindakan negatif yang dilakukan manusia, seperti perburuan liar dan perusakan hutan yang menyebabkan habitat dan kehidupan burung terganggu dan akhirnya punah. Jenis burung yang terancam punah di Indonesia sebesar 126 jenis burung yang menduduki peringkat pertama di dunia dalam hal kepunahan jenis burung.  Bali yang merupakan bagian dari wilayah Indonesia memiliki 174 jenis burung, diantaranya terdapat 26 jenis yang dilindungi. Burung merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki nilai penting ditinjau dari segi ekologis, ilmu pengetahuan, ekonomi, rekreasi, budaya bahkan dapat dikatakan burung merupakan satwa liar yang paling dekat dengan lingkungan hidup manusia yang perlu dilestarikan (Prawiradilaga, 1992)

Menurut Widodo dkk (1998).Pulau Bali dengan luas 5.135 Km² memiliki 317 jenis burung yaitu sekitar 20,6%  dari jenis burung yang ada di Indonesia. Dari jumlah jenis tersebut terdapat beberapa jenis burung endemik, yaitu Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) dan Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea parvula), selain itu terdapat pula beberapa jenis burung endemik di Pulau Jawa dan Pulau Bali yaitu Jalak Putih (Sturnus melanopterus) dan Gelatik Jawa (Padda oryzivora). Kondisi fisik dari pulau Bali sendiri mendukung untuk kehidupan burung-burung. Masih tersedianya lahan untuk melakukan aktifitas bagi burung adalah faktor utama banyaknya jenis burung yang ada di Bali. Salah satunya adalah kawasan hutan mangrove.

Hutan mangrove merupakan suatu kawasan yang terdapat di zona pasang surut di daerah tropis maupun sub-tropis. Hutan mangrove mempunyai beberapa fungsi penting bagi lingkungan, diantaranya hutan mangrove dapat menjaga garis pantai dari abrasi dan sebagai tempat bersarang dan mencari makan berbagai jenis satwa seperti burung, ikan udang dan kerang. Tumbuhan yang dapat hidup dikawasan hutan mangrove adalah jenis tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan kondisi tanah yang berlumpur dan salinitas yang tinggi. Beberapa jenis tumbuhan yang umum ditemui adalah dari famili Rhizoporaceae, Sonneratiaceae, Avicenniaceae, dan Meliaceae (Anonim, ?).

Indonesia merupakan negara dengan kawasan hutan mangrove terbesar didunia dan 3.067,71 ha tersebar di provinsi Bali yang tersebar di enam kabupaten (Kitamura dkk., 1997). Untuk kota Denpasar, kawasan hutan mangrove terletak di pesisir selatan pantai yang saat ini statusnya sebagai TAHURA (Taman Hutan Raya). TAHURA Ngurah Rai memiliki luas kurang lebih 1.373,05 ha dengan kantor pusatnya yang bernama The Mangrove Information Centre (MIC) atau Pusat Informasi Mangrove (Anonim, 2002). Kendala yang dihadapi oleh MIC dalam pengelolaan TAHURA Ngurah Rai adalah pengeksploitasian sumber daya alam yang berlebihan. Kondisi berpengaruh terhadap keanekaragaman jenis satwa yang ada di areal kawasan tersebut terutama untuk jenis burung. Karena burung sangat peka terhadap kerusakan lingkungannya. Selain itu penebangan yang berlebihan telah mengurangi luas areal hutan mangrove.

Pada tahun 1992 pemerintah dibantu oleh JICA (Japan Internasional Cooperation Agency) melakukan rehabilitasi terhadap TAHURA Ngurah Rai. Sebagai hasilnya meluasnya areal hutan mangrove. Karena proses rehabilitasi ini, hutan mangrove dapat dibedakan berdasarkan beberapa zona. Zona pertama adalah zona vegetasi alami. Dimana zona ini dihuni oleh pepohonan yang masih alami yang telah tumbuh sejak dahulu. Zona kedua adalah Zona reboisasi dengan ketinggian pohon lebih dari 7 meter. Kemudian untuk zona yang terakhir adalah Zona reboisasi dengan ketinggian 5 meter. Kedua zona  terakhir merupakan hasil dari program rehabilitasi .

Mengingat pentingnya hutan mangrove bagi lingkunan sekitar, maka perlu dilakukan penelitian kembali untuk mengetahui perkembangan dari hutan mangrove, terutama untuk zona dari hasil rehebilitasi. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui apakah zona-zona reboisasi dapat menunjang kehidupan satwa-satwa disekelilingnya dan sebagai indikatornya adalah zona vegetasi alami.

1.2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana keanekaragaman jenis burung di hutan mangrove vegetasi alami dan reboisasi >7 meter ?
  2. Bagaimana kesamaan keanekaragaman jenis burung di hutan mangrove vegetasi alami dengan reboisasi > 7 meter ?
  3. Bagaimana aktifitas dan interaksi burung-burung dengan habitatnya dikawasan hutan mangrove vegetasi alami dan reboisasi >7 meter ?

1.3. Tujuan

Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk:

  1. Mengetahui keanekaragaman jenis burung di hutan mangrove vegetasi alami dan reboisasi >7 meter.
  2. Mengetahui kesamaan keanekaragaman jenis burng di hutan mangrove vegetasi alami dengan reboisasi > 7 meter.
  3. Mengetahui aktifitas dan interaksi burung-burung dengan habitatnya dikawasan hutan mangrove vegetasi alami dan reboisasi >7 meter

BAB II

MATERI DAN METODE

2.1. Metode Pengumpulan Data

2.1.1. Waktu dan tempat

Pengambilan data dilaksanakan dikawasan Mangrove Informatian Centre (MIC) yaitu pada kawasan hutan mangrove hasil reboisasi dengan ketinggian lebih dari 7 meter dan pada kawasan hutan mangrove vegetasi alami.

Pengumpulan data dilaksanakan selama 6 hari, yaitu pada tanggal 14, 16, 19, 28, 30 November dan 3 Desember 2006 dengan waktu pengamatan mulai pukul 06.00 – 18.00 WITA.

2.1.2. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam pengumpulan data adalah Binokular merk Tasco dengan perbesaran 8 x 40 dan merk Minolta compact perbesaran 10 x 25, buku seri panduan lapangan burung – burung di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Bali (Mackinnon dkk., 1998), Tali rafia, meteran, alat tulis dan dash board.

2.1.3. Cara Kerja

2.1.3.1. Menghitung Keanekaragaman Jenis Burung

Untuk menghitung keanekaragaman jenis burung digunakan metode jelajah dari Bibby dkk. (1992) serta pencatatan jenis burung yang ditemui menggunakan metode pencatatan 10 jenis yang merupakan modifikasi dari metode pencatatan 20 jenis Mackinnon dkk. (1998), yaitu dengan mencatat jenis yang ditemui dalam tabel sampai 10 jenis. Dan ketika ditemui jenis burung lagi, dicatat pada tabel berikutnya. Setiap jenis burung hanya dicatat satu kali dalam satu tabel, tetapi kemungkinan akan dicatat kembali dalam daftar berikutnya. Dalam tabel dicatat juga aktifitas burung dengan menggunakan metode ad libitum sampling (Altman, 1974) yaitu dengan mencatat seluruh aktifitas pada saat pengamatan dengan menggunakan batasan aktifitas sebagai berikut :

  1. Foraging meliputi  aktifitas dalam proses memakan, yaitu pencarian, pengambilan, dan penelanan makanan dari lingkungan sekitarnya.
  2. Perching meliputi semua aktivitas yang dilakukan burung saat relatif tidak bergerak, yaitu bertengger di atas dahan dan saat vokalisasi.
  3. Preening merupakan aktivitas membersihkan seluruh bagian tubuhnya baik membersihkan bulunya maupun membersihkan paruhnya.
  4. Moving merupakan aktivitas bergerak atau terbang dari satu tempat ke tempat lainnya.
  5. Flying merupakan aktivitas terbang yang dilakukan oleh burung.

Dan dicatat pula frekuensi pertemuan. Untuk aktifitas dapat diporsentasikan dengan rumus :

Keterangan :

Ai = Jumlah aktifitas A pada habitat i

A = Jumlah aktivitas A pada seluruh kawasan

Selanjutnya dicari Indeks Keanekaragaman Burung dengan menggunakan rumus :

Dimana :

H         = Indeks Keanekaragaman Jenis

ni          = Jumlah individu masing – masing jenis

n          = Jumlah seluruh jenis

Untuk mengetahui kesamaan dari keanekaragaman jenis burung dilokasi hutan mangrove vegetasi reboisasi . 7 m dan hutan mangrove vegetasi alami digunakan rumus :

Keterangan:

B          = Indeks kesamaan

Xij = Jumlah individu jenis i di habitat j

Xik = Jumlah individu jenis i di habitat k

2.1.3.2. Anilisis Vegetasi

Analisis vegetasi menggunakan metode kuadrat. Kawasan penelitian diambil daerah sampelnya yaitu sekitar 5 – 10 % dari luas total areal penelitian. Digunakan plot-plot dengan ukuran 20m x 20m untuk menghitung tanaman yang tergolong pohon, 10m x 10m untuk menghitung tanaman yang tergolong tiang, 5m x 5m menghitung tanaman yang tergolong pancang dan 1m x 1m menghitung tanaman yang tergolong anakan. Tumbuhan tingkat pohon adalah tumbuhan yang diameter batangnnya lebih dari 25 cm, tumbuhan tingkat tihang adalah tumbuhan yang diameter batangnnya antara 15 – 25 cm, tumbuhan tingkat pancang adalah tumbuhan yang diameter batangnnya antara 5 – 15 cm dan tumbuhan tingkat anakan adalah tumbuhan yang diameter batangnnya kurang dari 5 cm. Tanaman yang berada didalam plot dihitung jumlahnya, diidentifikasi jenisnya dan diukur diameternya.

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil

3.1.1. Keanekaragaman jenis burung

Berdasarkan hasil pengamatan selama 6 hari, yaitu pada tanggal 14, 16, 19, 28, 30 November dan 3 Desember 2006dengan waktu pengamatan mulai pukul 06.00 – 18.00 WITA. Didapatkan total 58 jenis burung untuk disemua kawasan dan 30 diantaranya adalah burung darat. Pada kawasan hutan mangrove vegetasi alami didapatkan 47 jenis dengan jumlah frekuensi pertemuan sebanyak 232. Sedangkan pada kawasan mangrove reboisasi >7 m didapatkan 41 jenis burung dengan frekuensi pertemuan sebanyak 236. Untuk jenis burung yang ditemukan disajikan pada tabel 1 dan untuk perbandingan jumlah jenis yang ditemukan dan frekuensi pertemuan pada kawasan hutan mangrove vegetasi alami dan reboisasi > 7 meter.

Tabel 1. Jenis Burung yang Ditemui di Kawasan Mangrove Reboisasi > 7 meter Mangrove Vegetasi Alami

No Nama Latin Nama Lokal Lokasi
Mangrove Reboisasi . 7 m Mangrove Alami
1 Anthreptes malacensis 1) Burung Madu Kelapa 1 2
2 Accipiter gularis 1) Elang-alap Nipon 1 0
3 Aeghitina tiphia1) Cipoh Kacat 0 3
4 Alcedo coerulenscens 2) Raja Udang Biru 11 6
5 Amaurornis phoenicurus 2) Kareo Padi 5 2
6 Anhinga melanogaster 2) Pecuk Ular Asia 0 1
7 Ardea cinerea 2) Cangak Abu 2 2
8 Ardea purpurea 2) Cangak Merah 2 3
9 Ardeiola speciosa 2) Blekok Sawah 18 14
10 Bubulcus ibis 2) Kuntul Kerbau 49 26
11 Butorides Striatus 2) Kokokan Laut 2 0
12 Calidris subminuta 2) Kedidi Jari Panjang 2 0
13 Collocalia esculenta 1) Walet Sapi 5 7
14 Collocalia maxima 1) Wallet Sarang hitam 0 2
15 Corvus enca 1) Gagak Hutan 2 2
16 Corvus macrorhynchos 1) Gagak Kampung 1 1
17 Dendrocopus macei 1) Caladi Ulam 0 1
18 Dendrocopus moluccensis 1) Caladi Tilik 0 1
19 Dicaeum trochileum 1) Cabai Jawa 2 0
20 Dricrurus leucophaeus 1) Srigunting Kelabu 1 0
21 Egretta alba 2) Kuntul Besar 0 4
22 Egretta eulophotes 2) Kuntul Cina 0 1
23 Egretta garzetta 2) Kuntul Kecil 34 28
24 Egretta intermedia 2) Kuntul Perak 1 5
25 Falco moluccensis 1) Alap-alap Sapi 1 0
26 Falco severus 1) Alap-alap Macan 1 2
27 Gerygone sulphurea 1) Remetuk Laut 8 15
28 Hirundo rustica 1) Layang-layang api 0 4
29 Hirundo tahitica 1) Layang-layang Batu 0 4
30 Lonchura maja 1) Bondol Haji 0 4
31 Lonchura punculata 1) Bondol Peking 13 5
32 Microhierax fringilarius 1) Alap-alap Capung 1 1
33 Nectarinia jugularis 1) Burung Madu Sriganti 7 11
34 Numenius arquata 2) Gajahan Besar 1 4
35 Numenius madagascariensis 2) Gajahan Timur 0 4
36 Numenius minutus 2) Gajahan Kecil 2 4
37 Numenius phaeopus 2) Gajahan Pengala 9 7
38 Nycticorax caledonicus 2) Kowak malam Merah 0 5
39 Nycticorax nycticorax 2) Kowak Malam Kelabu 8 6
40 Orthotomus ruficeps 1) Cinenen Kelabu 0 2
41 Orthotomus sepium 1) Cinenen Jawa 0 1
42 Parus major 1) Gelatik Batu Kelabu 1 0
43 Phalacrocorax melanoleucos 2) Pecuk padi Belang 0 1
44 Phalacrocorax sulcirostris 2) Pecuk padi Hitam 0 1
45 Phylloscopus trivirgatus 1) Cikrak daun 0 2
46 Pluvialis fulva 2) Cerek Kernyut 1 0
47 Prinia familiaris 1) Perenjak Jawa 1 1
48 Pycnonotus aurigaster 1) Cucak Kutilang 1 0
49 Rhipidura javanica 1) Kipasan Belang 7 10
50 Seicercus grammiceps 1) Cikrak Muda 1 2
51 Streptopelia chinensis 1) Tekukur 7 7
52 Todirhamphus chloris 2) Cekakak Sungai 1 2
53 Tringa glareora 2) Trinil Semak 1 0
54 Tringa hypoleucos 2) Trinil Pantai 14 6
55 Tringa ochropus 2) Trinil Hijau 1 0
56 Tringa stagnatilis 2) Trinil Rawa 1 1
57 Tringa totanus 2) Trinil Kaki Merah 2 7
58 Zosterops palpebrosus 1) Kacamata Biasa 7 2
Jumlah 236 232

Keterangan:

1) = Burung darat

2) = Burung Air

Grafik Perbandingan jumlah jenis yang ditemukan dan frekuensi pertemuan antara mangrove reboisasi >7 meter dengan mangrove vegetasi alami


Berdasarkan jumlah individu masing-masing jenis, serta perhitungan indeks keanekaragaman jenis, didapatkan keanekaragaman burung di kawasan hutan mangrove vegetasi alami lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan hutan mangrove reboisasi > 7 meter. Kawasan hutan mangrove vegetasi alami memiliki indeks keanekaragaman jenis sebesar 1,46. Sedangkan untuk kawasan hutan mangrove reboisasi > 7 meter indeks keanekaragaman jenisnya sebesar 1,32.

3.1.2. Kesamaan dari keanekaragaman jenis burung

Dari hasil perhitungan indeks kesamaan didapat hasil indeks kesamaan dari keanekaragaman jenis burung dikawasan hutan mangrove reboisasi .7 meter dan dikawasan hutan mangrove alami sebesar 76 %.

3.1.3. Aktifitas dan Interaksi Burung

Aktifitas yang dilakukan burung-burung di Mangrove Information Centre (MIC) Taman Hutan Raya Ngurah Rai Denpasar Bali antara lain : Foraging, Pearching, Moving, Preening dan Flying. Aktifitas total burung berdasarkan kawasannya disajikan pada gambar 2.

Grafik aktifitas burung berdasarkan habitat Mangrove Information Centre (MIC) Taman Hutan Raya Ngurah Rai Denpasar Bali


3.1.4. Analisis vegetasi

Dari hasil analisis vegetasi pada kawasan hutan mangrove reboisasi > 7 meter dan kawasan hutan mangrove vegetasi alami disajikan pada tabel berikut ini :

Mangrove Vegetasi Alami Mangrove Reboisasi > 7 meter
  1. Aegiceras corniculatum
  2. Avicennia lanata
  3. Hibiscus tilliaceus
  4. Finlaysonia maritima
  5. Lumnitzera racemosa
  6. Rhizophora apiculata
  7. Rhizophora Mucronata
  8. Sonneratia alba
  9. Sonneratia caseoralis
  10. Sessuvium portulacastris

3.2 Pembahasan

3.2.1. Keanekaragaman burung

Pada pengamatan selama 6 hari di Mangrove Information Centre (MIC)  didapatkan 59 jenis burung (Tabei 1). Pada kawasan mangrove alami ditemukan jenis burung lebih banyak yaitu 47 jenis daripada kawasan reboisasi >7 meter yang hanya ditemukan 41 jenis. Kawasan mangrove alami keanekaragamannya lebih tinggi dengan nilai indeks keanekaragaman jenis 1,46. Sedangkan indeks keanekaragaman jenis untuk kawasan reboisasi > meter adalah 1,32. Tetapi, meski kawasan mangrove alami memiliki keanekaragaman yang lebih banyak, jumlah total individu yang ditemui lebih kecil daripada kawasan mangrove rebboisasi > 7 meter. Dimana pada kawasan mangrove alami total individu yang ditemui sebanyak 232 sedangkan untuk kawasan mangrove reboisasi > 7 meter sebanyak 236 jenis (Gambar 1).

Jenis-jenis burung yang ditemui adalah jenis-jenis burung air dan darat yang habitatnya berada di hutan mangrove atau burung-burung yang dapat mencari makan dihutan mangrove. Jenis burung air yang ditemukan sebanyak 28 jenis. Dari 28 jenis burung yang ditemui, jenis yang palling banyak adalah kuntul kerbau (Bubulcus ibis) dengan frekuensi pertemuan 49 kali pada kawasan mangrove reboisasi > 7 meter dan 26 kali pada kawasan mangrove alami. Kuntul kerbau yang ditemui sedang mengalami nasa breeding. Ini terlihat dari surai warna kuning yang ada pada leher sampai kepala burung tersebut. Ada beberapa burung yang yang hanya terlihat sekali sja seperti Pecuk Ular Asia (Anhinga melanogaster), pecuk padi belang (Phalacrocorax melanoleucos), Pecuk Padi Hitam (Phalacrocorax sulcirostris), Kuntul Cina (Egretta eulophotes) dan Trinil Semak (Tringa glareora).

Pecuk Ular Asia termasuk burung air yang besar dengan panjang tubuhnya mencapai 84 cm (Mackinnon, 1998). Burung ini ditemukan hanya sekali di kawasan mangrove alami. Pecuk Ular Asia adalah burung air yang belum pernah ditemukan di kawasan hutan mangrove. Ditemukannya Pecuk Ular Asia kemungkinan burung ini sedang bermigrasi. Satu lagi jenis burung yang tidak pernah tercatat di kawasan mangrove tetapi ditemukan adalah Kuntul Cina. Kuntul Cina dikawasan mangrove hanya ditemukan sekali dikawasan mangrove alami pada tanggal 3 Desember 2006. Kuntul Cina yang terlihat sangat mirip dengan kuntul kecil yang berwarna putih dengan leher panjang dan warna paruh dan kaki yang hitam. Hanya saja yang membedakan adalah warna kakinya sedikit lebih terang dan ada garis kuning yang seolah-olah menghubung akan mata dengan paruh. Tampak sekilas Kuntul Cina tidak berbeda dengan Kuntul kecil. Kemungkinan hal inilah yang menyebabkan burung Kuntul Cina susah sekali ditemukan.

Tingkat keanekaragaman yang berbeda menyebabkan ada beberapa jenis burung yang hanya ditemukan disatu kawasan saja. Burung-burung yang hanya ditemui dikawasan mangrove rebioisasi > 7 meter antara lain:  Elang alap Nipon (Accipiter gularis), Kokokan Laut (Butorides Striatus), Kedidi Jari Panjang (Calidris subminuta), Cabai Jawa (Dicaeum trochileum), Srigunting Kelabu (Dricrurus leucophaeus), Alap-alap Sapi (Falco moluccensis), Cerek Kernyut (Pluvialis fulva), Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Trinil Semak (Tringa glareora) dan Trinil Hijau (Tringa ochropus).

Sedangkan burung-burung yang hanya ditemui dikawasan mangrove alami adalah: Pecuk Ular Asia (Anhinga melanogaster), Pecuk Padi Belang (Phalacrocorax melanoleucos), Pecuk Padi Hitam (Phalacrocorax sulcirostris), Kuntul Cina (Egretta eulophotes), Cipoh kacat (Aeghitina tiphia), Walet Sarang Hitam (Collocalia maxima), Caladi Ulam (Dendrocopus macei), Caladi Tilik (Dendrocopus moluccensis), Kuntul Besar (Egretta alba), Layang-layang Api (Hirundo rustica), Layang-layang Batu (Hirundo tahitica), Bondol Haji (Lonchura maja), Gajahan Timur (Numenius madagascariensis), Cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps), Cinenen Jawa (Orthotomus sepium), Kowak Malam Merah (Nycticorax caledonicus) dan Cikrak Daun (Phylloscopus trivirgatus).

Perbedaan yang cukup besar ini dikarenakan faktor Fisik habitat dan ketersediaan pakan. Beberapa jenis burung seperti Caladi Ulam dan Caladi Tilik akan mencari tanaman berkayu untuk membuat lubang. Dan tanaman yang memiliki kayu yang cukup besar diameternya terdapat dikawasan mangrove alami. Selain itu di kawasan mangrove alami terdapat  rataan lumpur yang cukup luas saat air laut surut yang dimanfaatkan untuk mencari makan oleh burung-burung air. Kawasan reboisasi > 7 meter memeiliki kenampakan fisik yang jauh berbeda. Tanaman yang dominan adalah Rhizopora mucronata. Tingkat kerapatan di kawasan mangrove reboisasi > 7 meter sangat tinggi. Banyak tanaman yang tidak dapat tumbuh dengan sempurna atau mati karena kalah dalam kompetisi. Hal ini sangat berpengaruh pada jenis burung yang memanfaatkan pohon seperti Cinenen  Kelabu sehingga Cinenen Kelabu tidak ditemui didaerah mangrove > 7 meter. Faktor kerapatan juaga berpengaruh terhadap rataan lumpur yang ada. Rataaan lumpur bagi burng air sangat berguna. Kondisi ini menyebabkan jenis burng air yang ada dikawasan ini tidak terlalu banyak. Dan terkadang juga beberapa jenis burung hanya terlihat sekali saja seperti Trinil Semak dan Trinil Hijau dan tidaak terlihat pada pengamatan berikut-berikutnya. Namun, walaupun memiliki keanekaragaman yang lebih rendah dari kawasan mangrove alami, burung-burung kawasan mangrove reboisasi lebih mudah ditemui kerana lebih bersifat mobile dan kondisinya lebih sedikit terbuka. Hal ini dibuktikan dengan lebih banyaknya frekuensi pertemuan yang didapat dikawasan mangrove reboisasi > 7 meter (236) bila dibandingkan dengan di kawasan mangrove alami (232) dengan porsi lama pengamatan yang sama. Kawasan mangrove reboisasi > 7 meter juga telah kembali kepada fungsu biologisnya yaitu sebagai habitat satwa disekitarnya terutama burung.

3.2.2. Kesamaan keanekaragaman jenis burung

Apabila dilihat dari jumlah jenis burung yang didapat di kawasan mangrove reboisasi > 7 meter dan kawasan mangrove alami  yaitu pada kawasan mangrove reboisasi >7 meter sebanyak 41 jenis dan kawasan mangrove alami sebanyak 47 jenis, tidak tampak perbedaan yang mencolok. Jumlah jenis burung hanya berbeda 6 jenis yang bisa dikatakan bahwa kedua lokasi ini seragam. Tetapi jika dilihat dari jenis-jenis burung yang hanya ditemui di suatu kawasan, maka tingkat kesamaan keanekaragaman jenis rendah. Hal ini dibuktikan dengan perhitungan indeks kesamaan keanekaragaman yang hasilnya adalah 76%.

Hal ini sekali lagi dipengaruhi oleh faktor fisik dari masing-masing kawasan. Kawasan mangrove reboisasi > 7 meter memiliki jenis tumbuhan dominan yang berbeda denga kawsan mangrove alami. Di kawasan mangrove reboisasi > 7 meter tumbuhan yang paling dominan adalah Rhizophora mucronata, sedangkan untuk kawasan mangrove alami adalah Sonnerati sp. Tetapi kedua kawaan ini memiliki beberapa kesamaan yaitu sama-sama memiliki tumbuhan yang menghasilkan nectar dan memiliki rataan lumpur, hanya saja dari segi kuantitas lebih banyak di kawasan mangrove alami. Kesamaan ini menyebabkan ada burung dari jenis yang sama yang ditemui di kedua kawasan tersebut. Tetapi perbedaan kuantitatif dari tumbuhan penghasil madu juga membawa pengaruh yang cukup signifikan. Tanaman yang mengandung madu selain mengundang burung yang mengkonsumsi madu juga akan mengundang serangga. Serangga ini dapat menjadi sumber makanan bagi burung-burung pemakan serangga.

3.2.3. Aktifitas dan interaksi

Aktifitas yang teramatia adalah aktifitas Foraging, Pearching, Moving, Preening dan Flying. Aktifitas ini memiliki porsentase yang berbeda untuk disetiap kawasan. Pada kawasan mangrove reboisasi > 7 meter Aktifitas Foraging sebanyak 8.92%, Pearching sebanyak 13.56%, Moving sebanyak 27.91% dan Flying sebanyak 49.61%. Pada kawasan mangrove eboisasi alami aktifitas Foraging sebanyak 14.66%, Pearching sebanyak 17.67%, Moving sebanyak 24.57% dan Flying sebanyak 43.1% (Gambar 2)

Tipe habitat yang secara umum di kedua kawasan adalah komunitas tumbuhan mangrove dan rataan lumpur. Pada kawasan reboisasi > 7 meter didominasi oleh tumbuhan Rhizopora spp. Dengan kerapatan yang cukup tinggi dan hamparan lumpur yang sedikit. Kondisi dikawasan reboisasi > 7 meter juga masih banyak terdapat sampah yang terbawa oleh aliran sungai. Sedangkan untuk kawasan mangrove alami tumbuhan yang mendominasi adalah Sonneratia sp. yang menghasilkan madu dan denga hamparan lumpur yang luas karena tingkat kerapatannya rendah.

Pada aktifitas mencari makan porsentase paling besar adalah dikawasan mangrove alami yaitu sebesar 14,66%.hal ini disebakan karena kawasan ini menyediakan banyak sumber pakan bagi burung-burung yang ada disekitarnya. Sumber pakan ini tersedia karena kawasa ini memiliki jumlah tumbuhan yang banyak dengan tingkat kerapatan yang rendah. Sehingga burung-burung yang memanfaatkan tumbuhan dapat mencari makan sampai kanopi dalam. Hal ini menyebabkan semakin banyak burung yang datang untuk mencari makan di kawasan ini. Burung-burung juga akan lebih mudah menag]ngkap serangga untuk burung-burung pemakan serangga karena tidak terhalangi oleh batang atau dedaunan yang rapat. Selain itu hamparan lumpur juga mempengaruhi aktifitas makan di kawasan ini. Dengan hamparan lumpur yang luas berarti semakin banyak jumlah makanan yang ada. Dengan benyaknya jumlah makanan berarti akan mengurangi tingkat kompetisi sehingga banyak burung-burung air yang datang untuk mencari makan.

Aktifitas pearching juga banyak ditemukan di kawaan mangrove alami. Hal ini juga disebabkan karena faktor fisik dari kawasan tersebut. Tingkat kerapatan paling berpengaruh dalam hal ini. Dengan tingkat kerapatan yang tinggi seperti pada kawasan mangrove reboisasi > 7 meter, maka tidak akan memberikan ruang bagi burung-burung untuk pearching. Tumbuhan yang mendominasi kawasan juga berpengaruh pada aktifitas ini. Pada tanaman Rhixopora sp. tidak menyediakan cabang-cabang yang kuat untuk bertengger sedangkan Sonneratia sp. memiliki cabang-cabang batan yang cukuo besar dan kuat.  Selain itu tingkat gangguan juga akan berpengaruh. Burung adalah hewan yang sangat peka terhadap gangguan.

Aktifitas moving banyak teramati dikawasan mangrove reboisasi > 7 meter denga porsentase 27,91%. Sedangkan untuk dikawasan mangrove alami porsentasenya 24,57 %. Perbedaan ini disebabkan oleh gangguan dan tingkat kepadatan. Pada kawasan mangrove > 7 meter sebagian dilakukan saat mencari makan. Dengan sempitnya areal menccari makan, maka burung-burung harus banyak bergerak untuk mendapatkan makanannya. Selain itu aktifitas manusia yang cukup tinggi di kawasan ini menyebabkan burung-burung sering sekali berpindah tempat. Tidak adanya suatu tempat naungan yang membuat aman burung dari makhluk hidup lainnya juga berpengaruh. Pada kawasan mangrove alami, aktifitas moving banyak dilakukan oleh burung-burung kecil seperti Remetuk laut dan cikrak muda.

Aktifitas fliying adalah aktifitas terbang. Aktifitas ini dicatat apabila selama pengamatan burung hanya terlihat hanya diudara. Kawasan dengan porsentase aktifitas flying tertinggi adalah kawasan reboisasi > 7 meter, yaitu 49,61%. Dari kawasan reboisasi > 7 meter jenis burung yang sering teramati melakukan aktifitas terbang adalah dari jenis kuntul-kuntulan dan kowak malam kelabu. Untuk kowak malam kelabu biasanya teramati pada pagi hari saat akan kembali kesarang.

BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan, sebagai berikut :

  1. Pada kawasan hutan mangrove didapatkan 58 jenis burung untuk disemua kawasan dan 30 diantaranya adalah burung darat. Pada kawasan hutan mangrove vegetasi alami didapatkan 47 jenis dengan jumlah frekuensi pertemuan sebanyak 232. Sedangkan pada kawasan mangrove reboisasi >7 m didapatkan 41 jenis burung dengan frekuensi pertemuan sebanyak 236.
  2. Kawasan hutan mangrove vegetasi alami memiliki indeks keanekaragaman jenis sebesar 1,46. Sedangkan untuk kawasan hutan mangrove reboisasi > 7 meter indeks keanekaragaman jenisnya sebesar 1,32.
  3. Indeks kesamaan dari keanekaragaman jenis burung dikawasan hutan mangrove reboisasi > 7 meter dan dikawasan hutan mangrove alami sebesar 76 %.
  4. Pada kawasan mangrove reboisasi > 7 meter Aktifitas Foraging sebanyak 8.92%, Pearching sebanyak 13.56%, Moving sebanyak 27.91% dan Flying sebanyak 49.61%. Pada kawasan mangrove eboisasi alami aktifitas Foraging sebanyak 14.66%, Pearching sebanyak 17.67%, Moving sebanyak 24.57% dan Flying sebanyak 43.1%

DAFTAR PUSTAKA

Altman, J. 1974. Observational Study of Behaviour : Sampling Methods. Behaviour, 49 : 227-269

Anonim. ?. Pusat Informasi Mangrove. The Mangrove Information Centre. Denpasar.

Anonim. 2002. Hutan Mangrove di Bali (Potensi dan Manfaatnya). Dinas Kehuatanan Provinsi Bali. Denpasar-Bali.

Anonim, 2004. Burung Penjambret. Kabar Burung vol. VII th. ke 3 Agustus 2004.

Astuti M. ?. Pengamatan Burung. Konservasi Satwa Bagi Kehidupan. Malang.

Basuki O. P., Kisma D.W., Andrian N., Makhrabi A., Faturrohman., Kiswanto., Zaini R., Okie K., Aris H. 2005. Survey Habitat Lokasi Penglepasliaran Elang Brontok di Taman Wisata Alam Danau Buyan – Danau Tamblingan, Bali. Pusat Penyelamatan Satwa Bali. Bali.

Heyne, K. 1987 a. Tumbuhan Berguna Indonesia. Terjemahan Badan Litbang Kehutanan. Cetakan I. Jilid I Departemen Kehutanan. Yayasan Sarana Wana Jaya. Jakarta..

Imansyah M. J. 2001. Aktivitas Harian Jalak Bali (Leucopsar rothschildi Stresemann, 1912) di Semenanjung Prapat Agung, Balai Taman Nasional Bali Barat. Jurusan Biologi. Universitas Udayana. Bali.

Kitamura,S., C. Anwar, A. Chaniago, S. Baba. 1997. Handbook of Mangrove in Indonesia Bali and Lombok. The Development of Suistainable Mangrove Manajemen Project. JICA Bali. Denpasar-Bali.

MacKinnon J., Karen P., Bas van Balen. 1998. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan. Penterjemah: W. Rahardjaningtrah; A. Adikerana; P. Martodihardjo; E. K. Supardiyono; Bas van Balen. Puslitbang Biologi-LIPI/BirdLife International Indinesia Programme. Bogor.

Nursahid R. 1999. Mengapa Satwa Liar Punah?. Konservasi Satwa Bagi Kehidupan dan Yayasan KEHATI. Malang.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Prawiradilaga D. M., Satrio W., Alwin M. 2002. Buku Panduan Identifikasi Burung Pegunungan di Jawa: Taman Nasional Gunung Halimun. Biodiversity Conservation Project – LIPI – JICA – PHKA. Percetakan : CV. Pandu Surya Jaya.

Purnomo S., Dewi S. 2005. Elang Hitam Si Gagah Yang Suka Kebersihan. Kabar Burung Edisi Juni 2005. Jogjakarta.

Saryanthi R., dan V. Nijman. 1998. Teknik-teknik Untuk Mengamati Burung : Metode 20 Jenis dari MacKinnon. BirdLife International Indonesia Programme.

Shannaz J., P. Jepson dan Rudyanto. 1995. Burung-burung Terancam Punah Di Indonesia. PHPA/BirdLife International Indonesia Programme.

Sözer R., Yusron S., Pupung F. N. 1999. Jenis-jenis Burung Dilindungi Yang Sering Diperdagangkan. Yayasan Pribumi Alam Lestari. Bandung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s